oleh

Mulutmu Adalah Harimaumu, Anggota Legislatif Kota Padangsidimpuan Lupa Pepatah Itu (Berita MPI)

Padangsidimpuan MPI – Menghindari keramain adalah anjuran walikota dalam Perwal, bukan melarang acara pesta.
Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) dijadikan pergunjingan oleh seorang oknum anggota DPRD Padangsidimpuan yang mempertentangkannya dengan Peraturan Walikota Nomor 28 tahun 2020 tentang penerapan disiplin dan penegakan hukum protokol kesehatan sebagai upaya pencegahan dan pengendalian Covid – 19.

Dalam pemberitaan salah satu media online lokal, oknum Anggota DPRD itu mempertanyakan alasan Wali Kota Padangsidimpuan, yang tidak melarang acara pesta pernikahan yang mengundang kerumunan banyak orang.

Padahal, menurutnya protokol kesehatan jelas melarang untuk berkerumun (Physical distancing) dan berpendapat semestinya, walaupun di dalam Perwal Nomor 28 tahun 2020, tidak ada larangan untuk mengatur pesta pernikahan secara spesifik, tapi konsikuensi dari protokol kesehatan (Physical Distancing), itu dilarang.

Bahkan disebutkan nya, semua orang juga tau bahwa pesta nikah itu tidak larangan, tapi akibatnya akan menimbulkan keramaian.

Tanggapan oknum anggota dewan di media online lokal itu menjadi bahan candaan kalangan masyarakat.

“Kalau pesta di katakan mengundang keramaian, perdagangan di pasar baru, rumah makan, cafe, tempat hiburan juga mengundang keramaian. apa itu juga harus dilarang ?. Jangan asbun lah menanggapi persoalan adaptasi kebiasaan baru di masa pandemi Covid -19, mulutmu adalah harimaumu bapak dewan yang terhormat lupa akan pepatah itu.”Celoteh sejumlah kalangan masyarakat saat berbincang bincang dengan awak media di Padangsidimpuan, Senin 21 September 2020.

Nanda Rahmat salah satunya, iya menyebutkan bahwa sepanjang yang ia baca, Perwal 28 tahun 2020 mengedepankan penerapan protokol kesehatan Covid 19 dimana masyakarat agar menjalankan 4 M yaitu, Memakai masker, Mencuci Tangan, Menjaga jarak dan menghindari kerumunan.

Disebutkannya, sepanjang yang ia baca, Perwal 28 tahun 2020 mengedepankan penerapan protokol kesehatan Covid 19 dimana masyakarat agar menjalankan 4 M yaitu, Memakai masker, Mencuci Tangan, Menjaga jarak dan menghindari kerumunan.

Menurutnya, acara pesta tidak dilarang sepanjang menjalankan dan memenuhi unsur prokes Covid 19, dimana setiap orang wajib menggunakan masker, menyediakan sarana cuci tangan, menyediakan alat deteksi dini dan menjaga jarak sehingga menghindari kerumunan.

“Sebagai wakil rakyat sangat diharapkan jangan mempertanyakan saja, namun hendaknya memberikan saran dalam bentuk solusi dan inovasi menghadapi efek domino Pandemi Covid 19 tetapi dengan tetap menegakkan protokol kesehatan ditengah AKB ini,”ucap pria alumni UGN Padangsidimpuan itu.

Disisi lain, rekannya Ateng yang bekerja sebagai dekorasi pelaminan juga menyanyangkan statemen oknum anggota DPRD tersebut, menurutnya sebagai wakil rakyat, juga harus mempertimbangkan, memikirkan pekerjaan para pelaku usaha dari wedding organizer, dekorasi, katering, dan fotografi berapa bulan ini mereka kehilangan order.

“Sewaktu pembatasan sosial di perketat mereka (pelaku usaha dari wedding organizer, dekorasi, katering, dan fotografi) mengalami keterpurukan ekonomi. Seperti saya ini dan orang orang yang bersandar di pekerjaan itu,”ujar ateng yang mengaku sejak pandemi baru satu kali dapat orderan mendekorasi pelaminan.

Selanjutnya ia berharap pemerintah kota Padangsidimpuan agar gencar mensosialisasikan protokol kesehatan Covid -19 mengacu Perwal maupun ketentuan perundang undangan lainnya sehingga masyarakat dapat faham dan mengetahui apa yang harus dan yang boleh dilakukan dimasa adaptasi kebiasaan baru seperti saat ini.( Erijon DTT )

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed